Candirejo : Stunting Convergence Forum and Intervention Planning

Alfatika Dewi Pancari 31 Agustus 2026 14:06:28 WIB

Candirejo - Jumat, 28 Agustus 2026 Pertemuan Rembuk Stunting di Kelurahan Candirejo yang bertujuan menyusun strategi terpadu untuk menurunkan angka tengkes pada tahun 2027. Acara ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pihak kelurahan, Puskesmas, serta tim pendamping keluarga untuk mengoordinasikan intervensi melalui konvergensi lintas sektor.
Diskusi mencakup pemaparan data agregat gizi balita, identifikasi faktor risiko seperti sanitasi dan pola asuh, serta evaluasi cakupan kunjungan ke posyandu. Selain itu, ditekankan pentingnya pemanfaatan anggaran desa dan kolaborasi non-pemerintah guna mendukung program pemberian makanan tambahan serta edukasi bagi keluarga berisiko. Pertemuan diakhiri dengan sesi diskusi kelompok untuk merumuskan usulan kegiatan konkret yang akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan.

"Ketika 1 dari 3 Balita Candirejo Berat Badannya Seret: Menilik Data Gizi Terbaru dan Solusi Pola Asuh Responsif yang Berdampak"

Masalah gizi pada balita bukan sekadar urusan tinggi dan berat badan biasa, melainkan taruhan bagi masa depan, kesehatan, serta perkembangan otak anak-anak kita.

MASALAH & INFORMASI: Kondisi Gizi Balita Candirejo Terkini

Berdasarkan data resmi pengukuran balita tahun 2026, kita menghadapi tantangan gizi yang harus kita kawal bersama:

  • Masalah Berat Badan Seret: Pada pengukuran terbaru Agustus 2026, 34,47% balita berat badannya tidak naik. Meskipun angka ini membaik dari bulan Juni 2026 yang sempat menyentuh 49,39% (~123 balita), ini berarti masih ada sekitar 1 dari 3 anak di wilayah kita yang berat badannya seret.
  • Stunting: Sebanyak 12,12% balita (32 anak) teridentifikasi stunting pada Agustus 2026. Sebagai pembanding, pada bulan Juni 2026, tercatat ada 27 balita stunting (4 sangat pendek dan 23 pendek). Salah satu wilayah perhatian berada di Padukuhan Nasrilor dengan 4 balita stunting.
  • Underweight (Berat Badan Kurang): Mengalami perbaikan dari 13,25% (33 balita) pada Juni 2026 menjadi 9,09% pada Agustus 2026.
  • Wasting (Kurus): Sebanyak 2,41% (6 balita) pada Juni 2026 dan bertahan di angka 2,27% (6 balita) pada Agustus 2026.

Selain data balita, kita juga memiliki 956 Keluarga Risiko Stunting (KRS) berdasarkan pendataan tahun 2025. Risiko nyata (manifest) berada pada keluarga yang memiliki baduta (61 keluarga) dan balita (200 keluarga). Tingginya risiko ini dipicu oleh faktor sanitasi tidak layak, akses air bersih yang kurang terlindungi, kondisi ibu 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak anak), serta belum digunakannya metode kontrasepsi modern oleh Pasangan Usia Subur (PUS).

SOLUSI YANG BERDAMPAK: Langkah Nyata di Meja Makan

Mengatasi anak yang sulit makan dan menjaga agar berat badannya terus naik memerlukan
langkah-langkah praktis yang konsisten dari orang tua di rumah:

  1. Terapkan Pola Asuh Makan yang Responsif (Responsive Feeding) : Jangan biarkan anak makan sendirian tanpa pengawasan. Dampingi anak secara aktif saat makan, ajak berinteraksi, dan ciptakan suasana makan yang menyenangkan guna menstimulasi nafsu makannya.
  2. Prioritaskan Protein Hewani & Variasi Menu : Batasi ketergantungan pada MPASI saset instan siap seduh yang sering kali kekurangan kandungan protein hewani. Mulailah mengenalkan variasi bahan pangan lokal kaya nutrisi sejak dini agar anak tidak tumbuh menjadi pemilih makanan (picky eater).
  3. Batasi Makanan dan Camilan Tinggi Gula : Batasi pemberian jajanan manis atau cepat saji yang rendah gizi. Makanan tinggi gula hanya akan membuat anak merasa kenyang semu, sehingga mereka menolak makanan utama yang kaya akan zat gizi makro dan mikro.
  4. Optimalkan PMT Lokal & Rutin ke Posyandu : Jika anak menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal, pastikan makanan tersebut benar-benar dihabiskan oleh balita yang bersangkutan, bukan dibagi ke anggota keluarga lain. Selalu pantau tumbuh kembangnya dengan hadir ke Posyandu setiap bulan demi mencapai target kehadiran 100%.

Menurunkan angka stunting dan memperbaiki gizi anak adalah komitmen bersama yang dimulai dari piring makan di rumah kita masing-masing.

Pola asuh makan yang responsif (responsive feeding) adalah metode pemberian makan dimana orang tua atau pengasuh mendampingi anak secara aktif selama proses makan. Langkah ini
merupakan lawan dari pola pengasuhan makan yang tidak tepat, seperti anak hanya diberikan makanan lalu ditinggal beraktivitas tanpa didampingi.

Penerapan pola asuh yang responsif ini sangat penting karena pengasuhan makan yang belum responsif diidentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan balita menjadi susah makan dan berat badannya tidak naik. 

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Leni
    Ya Allah semoga dan di semogakan amin...baca selengkapnya
    01 November 2025 15:11:48 WIB
  • Eduardus lamahala kebakupuken
    quick ...baca selengkapnya
    11 September 2023 19:49:19 WIB
  • Nu
    Meriah sekali...baca selengkapnya
    16 Maret 2022 19:06:59 WIB
  • John Doe
    Semoga sukses dengan program SDGs ...baca selengkapnya
    21 Mei 2021 06:36:50 WIB
  • sudarmini
    InsyaAllah UAD siap mengawal Desa Candirejo dan Da...baca selengkapnya
    31 Desember 2019 07:38:51 WIB
Galeri Foto
Personalia
BALAI DESA CANDIREJO
premium bootstrap themes
INSTAGRAM
TIKTOK
PEMILU DAMAI

PEMILU DAMAI

"Memberi suara adalah bentuk komitmen kami terhadap diri sendiri, orang lain, negara dan dunia ini."

— Sharon Salzberg
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial